Selasa, 25 Agustus 2009

Kudanil Terbang dan Negeri di Atas Awan

Nona berlari dan terus berlari, dari satu tempat ke tempat lain, hingga ia tak tahu sekarang ada dimana. Nona terlihat lelah sekali, dia memutuskan untuk beristirahat sejenak di tempat itu, kemudian duduk di sebuah ayunan yang tergantung disebuah pohon. Nona mulai berayun, hingga dia bisa meresapi belaian angin yang sejuk membelai tubuhnya, rambutnya yang tergerai panjang pun mengikuti arah angin seperti air yang mengikuti aliran sungai, indah sekali menyerupai benang sutra hitam legam yang lembut dan bercahaya.


Sang Nona berayun manis menghadap ke arah barat, saat ini matahari tepat berada di atas kepalanya, untungnya sang pohon dengan senang hati meneduhinya di bawah daun-daun dan ranting-rantingnya yang lebat. Nona memejamkan mata kemudian dia berfikir, lalu berkata dalam hati,

"Saat ini aku ingin melukis! aku sangat ingin melukis! Hasrat ku untuk melukis sudah tak terbendung lagi!".

Kemudian dia melukis dalam imajinasinya, sekotak pensil warna dan beberapa cat warna tiba-tiba muncul seketika. Tapi kemudian dia kembali berkata,

"Aku butuh kuas dan penghapus juga beberapa permen lolipop."

Ajaib, apa yang dia inginkan pasti terkabul, satu per satu kuas, penghapus, dan beberapa permen lolipop pun bermunculan. Kalimat yang Nona ucapkan seperti sihir, yang mengabulkan keinginannya. Nona menggoreskan kuas pada kanvas imajinernya, dimulai dengan warna merah dan ungu kemudian putih lalu warna hijau, kuning dan biru, hingga terlihat seperti campuran warna pelangi, kemudian Nona membuka bungkus permen lolipop kemudian mengemutnya. Nona kelihatan asyik sekali dia pun sibuk dengan lukisannya, sesekali Nona mengemut permen lolipop yang dia pegang di tangan sebelah kirinya.

Beberapa lama kemudian, lukisan itu telah selesai dibuat. Lukisan yang indah, dan lucu, entah apa yang Nona pikirkan dia membuat seekor KUDANIL! Kudanil yang cantik, berwarna merah jambu keungu-unguan, kudanil itu mempunyai sepasang sayap yang sangat indah sekali, sayapnya bisa berubah warna setiap saat, indah sekali berkilauan bagai permata.
Nona terlihat senang, dia berkata

"Aku ingin Kudanil ini nyata!"

Tiba-tiba angin kencang berhembus, awan terang berganti gelap, kanvas yang ada di depan Nona terbang terbawa angin hingga tak terlihat lagi dari pandangan dan sekejap semuanya kembali tenang. Nona sedih, karena kanvas dengan gambar kudanil yang tadi dia lukis hilang terbawa angin kencang tadi.

Nona mulai menangis, dia menangis sambil mengemut permen lolipopnya. Ketika Nona sedang sibuk menangis, terdengar suara berisik dari semak-semak di belakang pohon "Krusuk krasak". Nona pun mulai mengecilkan suara tangisnya, perhatiannya teralih oleh sesuatu di semak-semak belakang pohon. Masih tersedu sedan Nona beranjak dari ayunan, kemudian melangkah menuju semak-semak di belakang pohon. Saat dia mulai mendekat, seekor kudanil keluar dari semak-semak itu. Itu adalah kudanil yang dilukis Nona tadi, masih terasa sekali bau cat basah. Nona terkejut melihat kudanil itu, dia benar-benar nyata, dia mempunyai sepasang sayap, warnanya pun sama persis dengan apa yang Nona gambar. Kemudian kudanil itu mendekat ke arah Nona, membelai pipi nona dengan lidahnya. Nona pun mulai berbalik membelai kudanil dengan tangannya. Mereka terlihat senang sekali, Nona kemudian berkata,

"Aku beri nama kamu DOLALI."

Kudanil pun terlihat menyukai nama itu, dia berjingkrak jingkrak kegirangan. Nona tertawa melihat tingkah Dolali, dan mereka menari bersama.

Dolali membawa nona terbang ke angkasa. Mereka terbang bersama sekumpulan burung bangau. Lalu terbang lebih tinggi lagi, Nona kagum sekali, entah akan dibawa kemana dia, yang pasti saat itu hati Nona senang sekali.

Hingga mereka tiba di sebuah tempat, menakjubkan sekali Nona tidak bisa berkata apa-apa selain memuji keindahan tempat itu. Sambil mengemut permen lolipopnya Nona turun dari tubuh Dolali.

Tempat itu beralaskan awan, lembut sekali hingga Nona melepaskan alas kakinya. Disana terdapat pepohonan, burung-burung berkicau riang, bunga-bunga yang indah, juga sungai yang jernih berkilauan. Nona berlari kesana kemari, bermain bersama Dolali. Mereka tertawa, menari, melompat dan menceburkan diri di sungai .Kemudian memetik bunga, dan menaburkan benihnya kembali. Pelangi terasa dekat sekali. Inilah yang disebut negri diatas awan. Disana pun terdapat ayunan yang tergantung di sebuah pohon besar yang teduh. Nona mendekat menuju ayunan itu, kemudian duduk dan berayun. Dia bisa melihat Dolali asyik bermain yang tidak jauh dari pandangannya.

Nona bahagia sekali, hatinya senang tak terkira. Dia berayun dan berayun, dan mulai memejamkan matanya sampai ia tertidur.

Setelah beberapa lama Nona membuka kembali matanya, perlahan-lahan. Nona terbangun dari tidurnya, dia lihat sekelilingnya semuanya nampak seperti biasa tidak ada negri di atas awan. Nona pun berkata,

"Oh, ternyata tadi hanya mimpi."

Sore itu nona berayun menghadap ke barat, sore itu indah walau hanya mimpi. Matahari tenggelam dengan cantiknya.

Lalu Nona berjalan menuju peristirahatan berikutnya. Ada sesuatu yang terganjal dalam mulutnya, dan Nona sadar dia sedang mengemut permen lolipop. Nona pun tersenyum mulai melangkah dengan gembira. Nona sadar, mimpi dan kenyataan itu hanya berbeda tipis. Semuanya itu sekarang adalah tugas Nona, menjadikan mimpi menjadi kenyataan.

Kini Nona berjalan, bukan berlari..

0 comments:

Posting Komentar

Selasa, 25 Agustus 2009

Kudanil Terbang dan Negeri di Atas Awan

Nona berlari dan terus berlari, dari satu tempat ke tempat lain, hingga ia tak tahu sekarang ada dimana. Nona terlihat lelah sekali, dia memutuskan untuk beristirahat sejenak di tempat itu, kemudian duduk di sebuah ayunan yang tergantung disebuah pohon. Nona mulai berayun, hingga dia bisa meresapi belaian angin yang sejuk membelai tubuhnya, rambutnya yang tergerai panjang pun mengikuti arah angin seperti air yang mengikuti aliran sungai, indah sekali menyerupai benang sutra hitam legam yang lembut dan bercahaya.


Sang Nona berayun manis menghadap ke arah barat, saat ini matahari tepat berada di atas kepalanya, untungnya sang pohon dengan senang hati meneduhinya di bawah daun-daun dan ranting-rantingnya yang lebat. Nona memejamkan mata kemudian dia berfikir, lalu berkata dalam hati,

"Saat ini aku ingin melukis! aku sangat ingin melukis! Hasrat ku untuk melukis sudah tak terbendung lagi!".

Kemudian dia melukis dalam imajinasinya, sekotak pensil warna dan beberapa cat warna tiba-tiba muncul seketika. Tapi kemudian dia kembali berkata,

"Aku butuh kuas dan penghapus juga beberapa permen lolipop."

Ajaib, apa yang dia inginkan pasti terkabul, satu per satu kuas, penghapus, dan beberapa permen lolipop pun bermunculan. Kalimat yang Nona ucapkan seperti sihir, yang mengabulkan keinginannya. Nona menggoreskan kuas pada kanvas imajinernya, dimulai dengan warna merah dan ungu kemudian putih lalu warna hijau, kuning dan biru, hingga terlihat seperti campuran warna pelangi, kemudian Nona membuka bungkus permen lolipop kemudian mengemutnya. Nona kelihatan asyik sekali dia pun sibuk dengan lukisannya, sesekali Nona mengemut permen lolipop yang dia pegang di tangan sebelah kirinya.

Beberapa lama kemudian, lukisan itu telah selesai dibuat. Lukisan yang indah, dan lucu, entah apa yang Nona pikirkan dia membuat seekor KUDANIL! Kudanil yang cantik, berwarna merah jambu keungu-unguan, kudanil itu mempunyai sepasang sayap yang sangat indah sekali, sayapnya bisa berubah warna setiap saat, indah sekali berkilauan bagai permata.
Nona terlihat senang, dia berkata

"Aku ingin Kudanil ini nyata!"

Tiba-tiba angin kencang berhembus, awan terang berganti gelap, kanvas yang ada di depan Nona terbang terbawa angin hingga tak terlihat lagi dari pandangan dan sekejap semuanya kembali tenang. Nona sedih, karena kanvas dengan gambar kudanil yang tadi dia lukis hilang terbawa angin kencang tadi.

Nona mulai menangis, dia menangis sambil mengemut permen lolipopnya. Ketika Nona sedang sibuk menangis, terdengar suara berisik dari semak-semak di belakang pohon "Krusuk krasak". Nona pun mulai mengecilkan suara tangisnya, perhatiannya teralih oleh sesuatu di semak-semak belakang pohon. Masih tersedu sedan Nona beranjak dari ayunan, kemudian melangkah menuju semak-semak di belakang pohon. Saat dia mulai mendekat, seekor kudanil keluar dari semak-semak itu. Itu adalah kudanil yang dilukis Nona tadi, masih terasa sekali bau cat basah. Nona terkejut melihat kudanil itu, dia benar-benar nyata, dia mempunyai sepasang sayap, warnanya pun sama persis dengan apa yang Nona gambar. Kemudian kudanil itu mendekat ke arah Nona, membelai pipi nona dengan lidahnya. Nona pun mulai berbalik membelai kudanil dengan tangannya. Mereka terlihat senang sekali, Nona kemudian berkata,

"Aku beri nama kamu DOLALI."

Kudanil pun terlihat menyukai nama itu, dia berjingkrak jingkrak kegirangan. Nona tertawa melihat tingkah Dolali, dan mereka menari bersama.

Dolali membawa nona terbang ke angkasa. Mereka terbang bersama sekumpulan burung bangau. Lalu terbang lebih tinggi lagi, Nona kagum sekali, entah akan dibawa kemana dia, yang pasti saat itu hati Nona senang sekali.

Hingga mereka tiba di sebuah tempat, menakjubkan sekali Nona tidak bisa berkata apa-apa selain memuji keindahan tempat itu. Sambil mengemut permen lolipopnya Nona turun dari tubuh Dolali.

Tempat itu beralaskan awan, lembut sekali hingga Nona melepaskan alas kakinya. Disana terdapat pepohonan, burung-burung berkicau riang, bunga-bunga yang indah, juga sungai yang jernih berkilauan. Nona berlari kesana kemari, bermain bersama Dolali. Mereka tertawa, menari, melompat dan menceburkan diri di sungai .Kemudian memetik bunga, dan menaburkan benihnya kembali. Pelangi terasa dekat sekali. Inilah yang disebut negri diatas awan. Disana pun terdapat ayunan yang tergantung di sebuah pohon besar yang teduh. Nona mendekat menuju ayunan itu, kemudian duduk dan berayun. Dia bisa melihat Dolali asyik bermain yang tidak jauh dari pandangannya.

Nona bahagia sekali, hatinya senang tak terkira. Dia berayun dan berayun, dan mulai memejamkan matanya sampai ia tertidur.

Setelah beberapa lama Nona membuka kembali matanya, perlahan-lahan. Nona terbangun dari tidurnya, dia lihat sekelilingnya semuanya nampak seperti biasa tidak ada negri di atas awan. Nona pun berkata,

"Oh, ternyata tadi hanya mimpi."

Sore itu nona berayun menghadap ke barat, sore itu indah walau hanya mimpi. Matahari tenggelam dengan cantiknya.

Lalu Nona berjalan menuju peristirahatan berikutnya. Ada sesuatu yang terganjal dalam mulutnya, dan Nona sadar dia sedang mengemut permen lolipop. Nona pun tersenyum mulai melangkah dengan gembira. Nona sadar, mimpi dan kenyataan itu hanya berbeda tipis. Semuanya itu sekarang adalah tugas Nona, menjadikan mimpi menjadi kenyataan.

Kini Nona berjalan, bukan berlari..

0 komentar:

Posting Komentar

 

Blog Template by YummyLolly.com