Jumat, 21 Agustus 2009

dia: SEOLAH TAMPAK TAK NYATA

dia..
walaupun nanti akhirnya berbeda saya akan terus menulis..
dia..
saya tidak pernah merencanakan untuk tahu siapa kamu,
itu semua bukan mau saya, saat saya berjalan di samping kamu pun itu bukan kehendak saya..
dia..
saat hujan, saya tidak pernah berlari untuk berteduh, karena saya tahu itu akan membuat saya lebih basah kuyup, seperti itu juga perasaan saya..
dia..
rumput-rumput dipadang itu terus bergoyang di basahi hujan, tapi dia tidak pernah peduli..
seperti kamu, saya tidak tahu, apakah kamu tahu apa pura-pura tidak tahu?
dia..
saya, saat mengenal kamu..
berjalan dengan alas merah meninggalkan jejak di sebuah kota,di karpet aspal hitam pinggiran kota..
melompat dan menari, tapi kamu masih tertinggal di belakang..
sampai saat saya duduk di sebuah meja kayu hangat, di sebuah atap cokelat tua gelap..
membangungkan hangat di diri..
tapi masih tidak bisa saya singkirkan gagap diri..
dia..
setelah hari itu dan selanjutnya..
saya pikir kita sama, tapi nyata, kamu berbeda, mungkin..
dia..
saat saya kembali, tidak satu pun yang terdengar di telinga saya tentang kamu
saya coba berharap dan menunggu..
dan saya pikir..
"bintang pun tak bisa kamu lihat dengan jelas, bagaimana saya?"
dia..
saat ini..
saya coba berhenti sejenak, bukan untuk melupakan..
tapi mencoba untuk menerima..
dia..
kamu jauh dari pandangan
tapi kamu seperti angin..
tak terlihat, tapi bisa saya rasakan..
dia..
pertemuan itu singkat, tapi membekas..
kamu tahu?
tidak perlu alasan untuk mencintai setiap jiwa..

0 comments:

Posting Komentar

Jumat, 21 Agustus 2009

dia: SEOLAH TAMPAK TAK NYATA

dia..
walaupun nanti akhirnya berbeda saya akan terus menulis..
dia..
saya tidak pernah merencanakan untuk tahu siapa kamu,
itu semua bukan mau saya, saat saya berjalan di samping kamu pun itu bukan kehendak saya..
dia..
saat hujan, saya tidak pernah berlari untuk berteduh, karena saya tahu itu akan membuat saya lebih basah kuyup, seperti itu juga perasaan saya..
dia..
rumput-rumput dipadang itu terus bergoyang di basahi hujan, tapi dia tidak pernah peduli..
seperti kamu, saya tidak tahu, apakah kamu tahu apa pura-pura tidak tahu?
dia..
saya, saat mengenal kamu..
berjalan dengan alas merah meninggalkan jejak di sebuah kota,di karpet aspal hitam pinggiran kota..
melompat dan menari, tapi kamu masih tertinggal di belakang..
sampai saat saya duduk di sebuah meja kayu hangat, di sebuah atap cokelat tua gelap..
membangungkan hangat di diri..
tapi masih tidak bisa saya singkirkan gagap diri..
dia..
setelah hari itu dan selanjutnya..
saya pikir kita sama, tapi nyata, kamu berbeda, mungkin..
dia..
saat saya kembali, tidak satu pun yang terdengar di telinga saya tentang kamu
saya coba berharap dan menunggu..
dan saya pikir..
"bintang pun tak bisa kamu lihat dengan jelas, bagaimana saya?"
dia..
saat ini..
saya coba berhenti sejenak, bukan untuk melupakan..
tapi mencoba untuk menerima..
dia..
kamu jauh dari pandangan
tapi kamu seperti angin..
tak terlihat, tapi bisa saya rasakan..
dia..
pertemuan itu singkat, tapi membekas..
kamu tahu?
tidak perlu alasan untuk mencintai setiap jiwa..

0 komentar:

Posting Komentar

 

Blog Template by YummyLolly.com